Selasa, 12 Juli 2011

20 Sifat Allah.swt yang Wajib Diketahui

Selasa, 12 Oktober 2010
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Sifat Allah itu banyak/tidak terhitung. Namun seandainya ditulis 1 juta, 1 milyar, atau 1 trilyun, tentu kita tidak akan sanggup mempelajarinya bukan? Seorang ulama menulis 20 sifat yang wajib (artinya harus ada) pada Tuhan/Allah. Jika tidak memiliki sifat itu, berarti dia bukan Tuhan atau Allah. Minimal kita bisa memahami dan meyakini 13 dari sifat tersebut agar tidak tersesat. Setelah itu kita bisa mempelajari sifat Allah lainnya dalam Ama’ul Husna (99 Nama Allah yang Baik)


Sifat-sifat itu adalah:

1. Wujud (ada)

Pembahasan mengenai Sifat Wujud Allah.swt sudah pernah saya bahas di artikel "Sifat Wujud Allah.swt - Bukti Jika Allah.swt itu ada" silahkan dibuka kembali.


2. Qidam (Terdahulu)

Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru).

“Dialah Yang Awal ...” [Al Hadiid:3]

Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Allah yang menciptakan langit, bumi, serta seluruh isinya termasuk tumbuhan, binatang, dan juga manusia. Firman Allah: “Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu..?” [Al Mu'min:62]

Oleh karena itu, Allah adalah awal. Dia sudah ada jauh sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, dan manusia lainnya ada. Tidak mungkin Tuhan itu baru ada atau lahir setelah makhluk lainnya ada.

Sebagai contoh, tidak mungkin lukisan Monalisa ada lebih dulu sebelum pelukis yang melukisnya, yaitu Leonardo Da Vinci. Demikian juga Tuhan. Tidak mungkin makhluk ciptaannya muncul lebih dulu, kemudian baru muncul Tuhan.

3. Baqo’ (Kekal)

Allah itu Baqo’ (Kekal). Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa).
Allah sebagai Tuhan Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya seperti manusia?

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati....” [Al Furqon 58]

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [Ar Rahman:26-27]

Karena itu jika ada “Tuhan” yang wafat atau mati, maka itu bukan Tuhan. Tapi manusia biasa.

Hikmah: Jika kita mencintai Allah yang Maha Kekal dan selalu ada dan menjadikanNya teman serta pelindung, niscaya kita akan tetap sabar meski kehilangan segala yang kita cintai.

4. Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya)

Allah itu berbeda dengan makhlukNya (Mukhollafatuhu lil hawaadits). Mustahil Allah itu sama dengan makhlukNya (Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits). Kalau sama dengan makhluknya misalnya sama lemahnya dengan manusia, niscaya “Tuhan” itu bisa mati dikeroyok atau disalib oleh manusia. Mustahil jika “Tuhan” itu dilahirkan, menyusui, buang air, tidur, dan sebagainya. Itu adalah manusia. Bukan Tuhan!

Allah itu Maha Besar. Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha Hebat. Dan segala Maha-maha yang bagus lainnya. “...Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia...” [Asy Syu’aro:11]

Misalnya sifat “Hidup” Allah beda dengan sifat “Hidup” makhluknya. Allah itu dari dulu, sekarang, kiamat, dan hingga hari akhirat nanti tetap hidup. Sebaliknya makhluknya seperti manusia dulu mati (tidak ada).. Setelah itu baru dilahirkan dan hidup. Namun itu pun hanya sebentar. Paling lama 1000 tahun. Setelah itu mati lagi dan dikubur. Jadi meski sekilas sama, namun sifat “Hidup” Allah beda dengan makhlukNya.

Demikian juga dengan sifat lain seperti “Kuat.” Allah selalu kuat dan kekuatannya bisa menghancurkan alam semesta. Sementara manusia itu dulu ketika bayi lemah dan ketika mati juga tidak berdaya. Saat hidup pun jika kena tsunami atau gempa apalagi kiamat, dia akan mati.

5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya)

Allah itu Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada makhluknya.

“.. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Al ‘Ankabuut:6]

“Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” [Al Israa’ 111]

Di dunia ini, semua orang saling membutuhkan. Bahkan seorang raja pun butuh penjahit pakaian agar dia tidak telanjang. Dia butuh pembuat bangunan agar istananya bisa berdiri. Dia butuh tukang masak agar bisa makan. Dia butuh pengawal agar tidak mati dibunuh orang. Dia butuh dokter jika dia sakit. Saat bayi, dia butuh susu ibunya, dan sebagainya.

Sebaliknya Allah berdiri sendiri.. Dia tidak butuh makhluknya. Seandainya seluruh makhluk memujiNya, niscaya tidak bertambah sedikitpun kemuliaanNya. Sebaliknya jika seluruh makhluk menghinaNya, tidaklah berkurang sedikitpun kemuliaanNya.

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [ Faathir 15]

Hikmah: Tidak sombong dan memohon hanya kepada Allah. Karena Manusia ketika lahir butuh bantuan. Demikian pula ketika mati meski dia kaya dan berkuasa

6. Wahdaaniyah (Esa)

Allah itu Wahdaaniyah (Esa/Satu). Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud) seperti 2, 3, 4, dan seterusnya.

Allah itu Maha Kuasa. Jika ada sekutuNya, maka Dia bukan yang Maha Kuasa lagi. Jika satu Tuhan Maha Pencipta, maka Tuhan yang lain kekuasaannya terbatas karena bukan Maha Pencipta.

”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” [Al Mu’minuun:91]

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." [Al Ikhlas:1-4]

Oleh karena itu, ummat Islam harus menyembah Tuhan Yang Maha Esa/Satu, yaitu Allah. Tidak pantas bagi ummat Islam untuk menyembah Tuhan selain Allah seperti Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Roh Kudus. Tidak pantas juga bagi ummat Islam untuk menyembah 3 Tuhan di mana satu adalah yang Menciptakan, satu lagi yang merusak, dan terakhir yang memelihara.

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki- Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]

Hikmah: Tidak mempersekutukan Allah

7. Qudrat (Kuasa)

Sifat Tuhan yang lain adalah Qudrat atau Maha Kuasa. Tidak mungkin Tuhan itu ‘Ajaz atau lemah. Jika lemah sehingga misalnya bisa ditangkap, disiksa, dan disalib, maka itu bukan Tuhan yang sesungguhnya. Hanya manusia biasa.

”... Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” [Al Baqarah:20]

”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” [Fathiir:16- 17]

Hikmah: menyadari kekuasaan Allah dan tawakal kepada Allah.

8. Iroodah (Berkehendak)

Sifat Allah adalah Iroodah (Maha Berkehendak) . Allah melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Mustahil Allah itu Karoohah (Melakukan sesuatu dengan terpaksa).

“…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Huud:107]

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia.” [Al Baqarah:117]

“…Katakanlah : "Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Fath:11]

Hikmah: tawakal kepada Allah dan selalu berdoa kepada Allah

9. Ilmu (Mengetahui)

Allah itu berilmu (Maha Mengetahui). Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh). Allah Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu.

Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat.

“Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" [Al An’aam:59]

“Katakanlah: Sekiranya lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu." [Al Kahfi:109]

“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’:176]

10. Hayaat (Hidup)

Allah itu Hayaat (Maha Hidup). Tidak mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika Tuhan mati, maka bubarlah dunia ini. Tidak patut lagi dia disembah. Maha Suci Allah dari kematian/wafat.

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup kekal Yang tidak mati...” [Al Furqaan:58]

11. Sama’ (Mendengar)

Allah bersifat Sama’ (Maha Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat Shomam (Tuli).

Allah Maha Mendengar. Mustahil Allah tuli.

“... Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]

12. Bashor (Melihat)

Allah bersifat Melihat. Mustahil Allah itu ‘Amaa (Buta).

“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]

Hikmah: takut berbuat dosa karena Allah selalu melihat kita

13. Kalam

Allah bersifat Kalam (Berkata-kata) . Mustahil Allah itu Bakam (Bisu)

“...Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [An Nisaa’ 164]
Jika kita meyakini ini, tentu kita tidak akan menyembah berhala yang tidak bisa bicara sebagai Tuhan [Al Anbiyaa’ 63-65]

Demikianlah sifat-sifat Allah yang penting yang wajib kita ketahui agar kita tahu mana Tuhan yang asli dan mana yang bukan.

Jika sifat-sifat Tuhan itu kita pahami dan yakini, niscaya kita tidak akan menyembah 3 Tuhan atau Tuhan yang Mati atau Tuhan yang Lemah, dan sebagainya. Kita hanya mau menyembah Allah yang memiliki sifat-sifat di atas dengan sempurna.

Ada pun sifat-sifat ke 14-20 sesungguhnya merupakan bentuk Subyektif/Pelaku dari Sifat nomor 7-13 yaitu:

14. Qoodirun: Yang Memiliki sifat Qudrat
15. Muriidun: Yang Memiliki Sifat Iroodah
16. ‘Aalimun: Yang Mempunyai Ilmu
17. Hayyun: yang Hidup
18. Samii’un: Yang Mendengar
19. Bashiirun: Yang Melihat
20. Mutakallimun: Yang Berkata-kata

Insya Allah semua sifat-sifat Allah itu berdasarkan dalil Al Qur’an yang kuat jadi harus kita yakini kebenarannya. Ilmu Tauhid ini begitu penting. Sebab itu cetaklah dan sebarkanlah pada keluarga dan teman-teman anda untuk memperkuat aqidah mereka.

Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami - Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....[]

Terima kasih sudah mau membaca : 20 Sifat Allah.swt yang Wajib Diketahui
Jangan lupa tinggalkan saran dan kripik pedasnya di kotak komentar, Wallahu'alam bissowab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Akses Blog Kami di http://buzzcity.mobi/artikelislam dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.

Sabtu, 20 Februari 2010

Download Area | Free Download Ebook Islami

Sabtu, 20 Februari 2010
Silahkan pilih salah satu link download - Apabila ada link yang tidak berfungsi dan rusak mohon diberitahukan melalui kotak komentar dengan menuliskan link yang tidak berfungsi tersebut.


Al-Qur'an dan Hadist :
01. Al-Qur'an dan Hadist [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
02. Himpunan Hadist Qudsi [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
03. Al-Quran dan Hadits Riyadhus Shalihin [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
04. Hadits Arbain An-Nawawi [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
05. Al-Qur'an Rahasia Angka [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
06. Hisnul Muslim [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
07. Menghafal Al-Qur'an [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire]


Ebook Biografi Rasulullah dan Para Sahabat :
01. Biografi Nabi Muhammad.SAW Oleh Muhammad Husain Haekal [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
02. Biografi Nabi Muhammad.SAW Oleh Maulana Abdul Haque Vidyarthi [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
03. Biografi Abu Bakar.ra [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
04. Biografi Umar Ibn Khattab.ra [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
05. Biografi Utsman bin Affan.ra [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
06. Biografi Ali bin Abi Thalib.ra [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire ]
07. Biografi Dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia [ Download via: ziddu, Indowebster, 4shared, Mediafire]


Ebook Kisah-Kisah Islami :
01. Kisah-kisah Islami - Al-Sofwah [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
02. Kisah 1001 Malam Abunawas [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
03. Kisah Umar dan Gadis Pemerah Susu [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
04. Kisah-kisah Tentang Kabah [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
05. PerjalananMencari Kebenaran Salman Al-Farisi [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
06. 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
07. 1001 Kisah Teladan Download via: ziddu, mediafire4shared,]
08. Mengenal Sifat Rasulullah Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
09. Kisah Para Nabi Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
10 . wali Allah Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]
11. Cerita Islami Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]


Ebook Seputar Hari Raya Islam :
01. Bekal Menyambut Hari Raya Qurban [ Download via: ziddu, mediafire4shared,]
02. Hari Raya Idul Fitri Bersama Rasulullah [ Download via: ziddu, mediafire4shared,]
03. Risalah Ramadhan [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared,]
04. Bekal-bekal Menyambut Ramadhan [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared,]
05. Ramadhan Big Sale [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared,]


Ebook Seputar Shalat :
01. Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Berjamaah [ Download via: ziddu, mediafire4shared,]
02. Shalat Khusu Itu Mudah [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared,]
03. Hukum Meninggalkan Shalat [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared,]
04. Kumpulan Do'a [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared]
05. Sifat Wudhu Rosulullah.SAW-1 [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]
06. Sifat Wudhu Rosulullah.SAW-2 [ Download via: ziddu, mediafire,  4shared]
07. 33 Faktor yang Membuahkan Shalat Khusu [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]
08. Risalah Shalat Jum'at [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]
09. Sifat Sholat Nabi-1 [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]
10. Sifat Sholat Nabi-2 [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]
11. Sholat Tahajud dan Witir Rasulullah.SAW [ Download via: ziddu, mediafire, 4shared]


Ebook Seputar Rumah Tangga :
01. Cara Yang Baik Berbicara Terhdap Anak-anak [ download ]
02. Adab Tidur dan Bermimpi Ala Rasulullah.saw [ download ]
03. Solusi Bijk Seputar Rumah Tangga [ download ]
04. Nama Anak Putera dan Putri [ download ]
05. Nasihat Memperbaiki Rumah Tangga [ download ]


Ebook Tutorial Belajar Bahasa Arab :
01. Belajar Bahasa Arab [ download ]


Ebook Kitab-Kitab Islam :
01. Tafsir Ibnu Katsir [ download ]
02. Aqidah Seorang Muslim [ download ]
03. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah [ download ]
04. Prinsip Ilmu Ushul Fiqih [ download ]
05. Yakinlah Allah Dekat Bersama Kita [ download ]


Ebook Yusuf Qardhawi :
01. Kumpulan Buku Yusuf Qardhawi [ download ]


Ebook Harun Yahya :
01. 5 Buku dalam 1 File [ download ]
02. 3 Buku dalam 1 File [ download ]
03. 24 Jam Kehidupan Seorang Muslim [ download ]


Ebook Islami Lainnya :
01. Aurad Muktabah [ download ]
02. 100 Tokoh Yang Bepengaruh di Dunia [ download ]
03. 13 Jalan Menempuh Ilmu Ikhlas [ download ]
04. Agama Haq [ download ]
05. Aku Ingin Bertaubat [ download ]
06. Adab Berpakaian [ download ]
07. Tafsir Mimpi [ download ]


Ebook Dialog Agama :
01. JIL Sebuah doktrin yang telah usang [ download ]
02. Studi Komprehensif Manhaj Ahlis Sunnah [ download ]


Murattal mp3 Asy-Syudais dan Asy-Syuraim :
01. Murattal mp3 Asy-Syudais dan Asy-Syuraim [ download ]


Daftar E-book / Artikel Islam lainnya diantaranya : Agama Haq, Bimbingan Islam, cerita islami, Dosa-dosa Yang Dianggap Biasa, dan masih buuuaanyak ebook lainnya lagi. silahkan ikuti link berikut : Lanjut....... ]

Terima kasih sudah mau membaca : Download Area | Free Download Ebook Islami
Jangan lupa tinggalkan saran dan kripik pedasnya di kotak komentar, Wallahu'alam bissowab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Akses Blog Kami di http://buzzcity.mobi/artikelislam dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.

Senin, 05 Juli 2010

Bacaan Shalat dan Terjemahannya

Senin, 05 Juli 2010
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Sekedar mengingatkan diri pribadi yang belum bisa untuk shalat dengan sempurna, berikut saya tuliskan Bacaan-bacaan do'a didalam shalat berikut terjemahannya, semoga shalat kita semua semakin sempurna dan menuju kepada shalat yang khusyu :

Do'a Iftitah :
Salah satu do’a iftitah adalah : “Allaahu akbar kabiiraa walhamdu lillaahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil’aalamiin. Laa syariikalahu wa bi dzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.”

Artinya :
“Allah Maha Besar lagi Sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan memberi keselamatan dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya ku, ibadatku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku dari golongan orang muslimin.”

Do'a Rukuk:
“Subhaana Rabbiyal ‘Adhiimii wa bi hamdih” ( Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung dan dengan puji-Nya).

Do'a I'tidal :
“Sami’allahu liman hamidah” (Allah sungguh mendengar para pemuji-Nya). “Rabbanaa lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’du” (Ya Allah Tuhan kami ! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu)

Do'a Sujud :
“Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Luhur dan dengan puji-Nya)”

Do'a Diantara Dua Sujud :
Robighfirlii ……… ( Ya Allah, Ampunilah aku…) 
warhamnii……… ( Belas kasihanilah aku … ) 
wajburnii ……… ( Cukupkanlah segala kekuranganku …)
warfa’nii………( Angkatlah derajatku … ) 
warzuqnii ……… ( Berilah rezeki kepadaku … ) 
wahdinii…………( Berilah petunjuk kepadaku … ) 
wa’aafinii ……… ( Berilah kesehatan kepadaku … ) 
wa’fu ‘annii………( dan berilah ampunan kepadaku … )

Do'a Tahiyat :
At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatulillaah ( Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah )” “Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakaatuh” (Segala keselamatan tetap untuk engkau, hani Nabi, dan demikian juga rahmat Allah dan berkahNya), “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiina” (Mudah – mudahan keselamatan tetap untuk kami sekalian dan untuk para hamba Allah yang shalih-shalih). “ Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah” ( Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah). Kemudian bershalawatlah kepada Nabi, “Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad” (Ya Allah, Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad). “Wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Ya Allah, Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad), kemudian “Kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahim” (Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya), “ Wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya), “Kamaa baarakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim” (Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya), kemudian, “Fil ‘aaalamiina innaka hamiidum majiid” (Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha Mulia ).


Dari 'Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): "As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh." Dan kesebelah kiri: "As Salamu'alaikum Wa Rahmatullahi." (Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Idr-Clickit - PTC Sistem Baru 
Indonesia


Semoga semua artikel dan eBook di blog "Artikel Islami | Free Download Ebook Islami" bermanfaat untuk kita semua, apabila ada tulisan yang salah dan perlu untuk diralat mohon komentarnya | Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....[]


Terima kasih sudah mau membaca : Bacaan Shalat dan Terjemahannya
Jangan lupa tinggalkan saran dan kripik pedasnya di kotak komentar, Wallahu'alam bissowab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Akses Blog Kami di http://buzzcity.mobi/artikelislam dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.

Video Proses Terjadinya Penciptaan Manusia

Selasa, 12 Juli 2011
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...
Bismillahirrahmaanirrahiim...

Video Proses Terjadinya Penciptaan Manusia

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.



Terima kasih sudah mau membaca : Video Proses Terjadinya Penciptaan Manusia
Jangan lupa tinggalkan saran dan kripik pedasnya di kotak komentar, Wallahu'alam bissowab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...

Akses Blog Kami di http://buzzcity.mobi/artikelislam dimana saja melalui ponsel, Blackberry atau iPhone Anda.
      Artikel ini merupakan tanya-jawab dari seorang profesor yang bernama Wilson H. Guertin, Ph.D. sebagai seorang non-muslim --sang penanya-- dengan Mohammad Jawad Chirri sebagai seorang muslim yang berusaha menjelaskan dari sisi pandang Islam.     1. Pendahuluan oleh Wilson H. Guertin, Ph.D.    2. Pembukaan           * Bagaimana sikap Islam terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan ajaran-ajarannya dan memperbandingkan prinsip-prinsipnya dengan lain kepercayaan?           * Apakah Islam mempunyai patokan atau nasehat khusus mengenai penyelidikan (pembahasan) Agama secara ilmu pengetahuan.     3. Definisi Islam           * Salah satu yang penting dalam tiap diskusi adalah membatasi pokok diskusi. Seperti yang akan kita lakukan pada diskusi Islam, saya ingin agar anda memberi batasan arti dari kata "Islam" sebab ini adalah bahasa Arab, dan perlu untuk orang-orang yang bukan Arab mengetahui artinya.           * Apa hubungannya antara arti mula-mula Islam dan arti yang khusus setelah adanya Muhammad?           * Adakah peraturan (cara) untuk orang yang akan memeluk agama Islam?           * Mengapa pernyataan Syahadat cukup untuk pengakuan seseorang kedalam agama Islam?           * Apakah seseorang yang memeluk agama Islam dengan pertimbangan terlebih dahulu akan sama dengan orang yang sejak lahir telah memeluk agama Islam?           * Kadang-kadang saya menemui bahwa Islam dikatakan "Deen-El-Touhid" dan kadang-kadang dikatakan "Deen-El-Fitrah." Kedua nama tersebut dari bahasa Arab, keduanya harus ditafsirkan untuk kepentingan orang-orang yang bukan Arab.     4. Mengapa Islam Populer?           * Faktor-faktor menyebabkan Islam berkembang dengan cepat:                 o Al-Qur'an                 o Kepribadian Nabi Islam                 o Keyakinan para pemeluk awal                 o Prinsip-prinsip Islam            * Apakah Islam mengajurkan lewat missi untuk memasukkan orang kedalam Agama Islam semacam yang telah dilakukan Kristen?           * Jumlah missi Kristen seluruh Dunia.           * Beberapa orang menghubungkan perkembangan Islam dengan kerahiman Islam sendiri, mereka berfikir bahwa Islam memiliki permintaan-permintaan yang sedikit dari pengikutnya daripada agama lain seperti Kristen. Apa komentar anda tentang pendapat ini?           * Sebagian pengeritik-pengeritik Islam berfikir bahwa Islam mempunyai janji yang lebih besar daripada Kristen, dan karena itu, dengan janji-janjinya akan menarik orang-orang.           * Beberapa pengeritik menyatakan bahwa Islam berkembang lewat kekuatan (kekerasan), dan tidak dengan berkhotbah dan usaha meyakinkan (persuasi).     5. Tentang terjadinya Alam Semesta           * Telah dibuktikan, bahwa alam semesta telah sangat tua. Diperkirakan umurnya telah berbilliun-billiun tahun. Tampaknya kitab Injil Kristen mengecilkan (mengurangi) umur alam semesta beberapa ribu tahun. Apakah Kitab Suci Al-Qur'an memiliki definisi tentang umur alam semesta (universe)?           * Untuk membentuk benda-benda langit yang tak terhitung itu, memerlukan bahan di luar kemampuan perhitungan kita. Apakah ada keterangan di dalam Al-Qur'an mengenai jenis bahan yang membentuk benda-benda ini.           * Apakah Kitab Suci Al-Qur'an menerangkan tentang bahan pertama yang membentuk bintang-bintang dan planit?           * Dari bahan apa yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan?           * Apakah Al-Qur'an membenarkan pernyataan dari Injil yang dimuat di dalam buku pertama Taurat tentang tingkat terjadinya alam semesta?           * Berikan pada saya beberapa contoh perbedaan-perbedaan yang saudara nyatakan:                 o Contoh 1: Pernyataan yang menunjukkan bahwa yang pertama diciptakan yaitu siang dan malam.                 o Contoh 2: Fasal yang sama menerangkan bahwa, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman, buah-buahan diciptakan dan tumbuh pada hari ketiga.                 o Contoh 3: Fasal yang sama menyatakan bahwa Tuhan, pada hari keenam menciptakan manusia.                 o Contoh 4: Fasal kedua bertentangan dengan fasal pertama.                 o Contoh 5: Fasal pertama telah menyatakan bahwa binatang diciptakan pada hari kelima.                 o Contoh 6: Kita dapatkan di dalam fasal tiga dari Taurat (Genesis) ini bahwa Hawa (Eve) didustai oleh ular yang membujuknya untuk makan dari tanaman yang dilarang.                 o Contoh 7: Dalam fasal yang sama kita temui pembatasan ilmu pengetahuan Tuhan, dan bahwa Dia adalah sesuatu yang dapat berjalanan dan bahwa Adam dan Hawa dapat menyembunyikan dirinya dari Tuhan.     6. Saya tahu bahwa percaya pada Tuhan, pencipta alam semesta, adalah pokok pertama dalam kepercayaan Islam, dan bahwa sangkalan adanya Dia meletakkan seseorang ke luar dari Agama Islam. Tetapi saya tidak tahu, apakah Islam menghendaki setiap kenyataan kongkrit pada adanya Zat Allah atau apakah Islam menasihatkan pengikut-pengikutnya untuk mempercayai kata-kata Qur'an dan pernyataan Nabi.    7. Satu Pencipta           * Anda telah menerangkan bahwa Syahadat "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Mohammad adalah utusan Allah." merupakan hal yang penting. Apakah Islam memberi bukti pada prinsip yang penting ini?           * Bagaimana pandangan Islam terhadap azas Trinitas?           * Mengapa Islam menolak dengan tegas azas Trinitas?           * Penjelasan anda menunjukkan bahwa orang-orang Islam tidak mempercayai ke-Tuhanan Yesus, apakah anda mempunyai bukti yang jelas terhadap kesalahan ketuhanannya?           * Mengapa kita tidak dapat memandang Yesus sebagai Tuhan ditilik dari sudut kewajibannya dan sebagai manusia dari segi badannya?           * Tetapi Yesus tidak seperti kita. Dia, menurut Qur'an dan Injil, dilahirkan dari seorang Ibu tanpa Ayah. Apakah ini tidak dimaksudkan bahwa dia lebih daripada manusia?           * Bagaimana kita tahu bahwa dia bukan pencipta alam semesta?     8. Yesus Menurut Islam dan Kristen           * Hal-hal apa yang Islam dan Kristen setuju mengenai Yesus.                 o Islam menganjurkan untuk mempercayai kesucian Yesus.                 o Pandangan-pandangan Islam tentang kesucian Maryam.                 o Islam menyatakan bahwa Yesus dilahirkan dengan keajaiban dari seorang ibu tanpa seorang ayah.                 o Qur'an menyebutkan keajaiban-keajaiban Yesus yang juga disebutkan di dalam Injil.            * Hal-hal di mana Islam & Kristen berbeda dalam pandangannya terhadap Yesus.                 o Meskipun Islam berpendapat bahwa Yesus adalah suci, tetapi Islam menolak ketuhanannya.                 o Yesus, sesuai dengan ajaran Islam, bukan anak Tuhan.                 o Islam menolak penyaliban Yesus. Yesus tidak (bukan) meninggal disalib. Kitab Suci Qur'an jelas dalam hal ini.                 o Empat Injil jelas menyatakan bahwa Yesus meninggal disalib. Bagaimana kita dapat menyesuaikan (mendamaikan) pernyataan ini dengan pernyataan Qur'an yang menolak dengan tegas kematian Yesus disalib?                 o Islam tidak setuju dengan Kristen pada azas penebusan. Azas Penebusan didasarkan pada azas dosa asal: bahwa manusia telah dihukum oleh Tuhan karena dosa-dosa Adam dan Eve yang oleh karena itu diwarisi oleh anak-anaknya.     9. Keadilan Tuhan           * ... tetapi saya ingin mengetahui bahwa "Adil" adalah salah satu sifat-sifat Tuhan. Saya telah berbicara dengan beberapa orang Islam bahwa itu adalah salah satu darl sifat-sifat Tuhan, tapi orang-orang Islam yang lain bilang tidak benar.           * Kepercayaan Yuda (Yudaism) dan Kristen sesuai dengan Islam mempunyai pandangan yang sama, dan tidak ada orang-orang Kristen atau Yahudi yang meragukan keadilan Tuhan. Azas keadilan Tuhan, karena itu, Kristen dan Yahudi sama dengan Islam, dan saya tidak melihat perbedaan ketiga kepercayaan itu di dalam masalah ini.           * Maukah anda menyebutkan beberapa doktrin (azas-azas) Islam yang berasal dari keadilan Tuhan?                 o Tuhan tidak meminta dari makhluk yang diciptakanNya melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan.                 o Tuhan tidak membebankan individu tanggungjawab, kecuali tentang apa yang ia lakukan sendiri di bawah kontrolnya.                 o Mahkluk hidup tidak dapat dibebani dosa yang diperbuat Adam & Eve.            * Adam dan Hawa seperti kita. Kita umpamakan bahwa mereka menyesal dengan tulus ikhlas setelah mereka berdosa. Apakah berarti dosa mereka dihapuskan?           * Bila dosa Adam dihapuskan mengapa dia diusir dari sorga Tuhan?           * Perjanjian lama menyampaikan pada kita bahwa dosa Adam karena memakan dari sebuah tanaman, dan tanaman itu adalah tanaman ilmu pengetahuan yang Tuhan katakan padanya untuk dihindari. Bagaimana tinjauan Qur'an tentang masalah ini?           * Oleh penyangkalan dari dosa asal, azas penebusan ditinggalkan tanpa dasar. Anda telah berbicara pada pokoknya, tetapi hal itu telah menjadi jelas bahwa penebusan adalah salah satu prinsip yang tidak sesuai dengan konsep keadilan Tuhan. Bagaimana menurut Islam?    10. Kebebasan vs Takdir           * Baik filosof maupun guru-guru Agama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Sebagian mereka menganjurkan kebebasan manusia dan bahwa apapun yang ia lakukan adalah atas kebebasan kemauannya sendiri; sebagian menolak kebebasan ini dan berfikir bahwa apa yang nampaknya menjadi suatu tindakan yang bebas atau tidak bebas dari manusia adalah tunduk pada aturan yang sudah digariskan lebih dulu.           * Islam, diharapkan menganjurkan kebebasan manusia dan menentang pengertian takdir atau apa yang dikatakan di dalam filsafah "Determinism" (ketentuan). Saya ingin mengetahui bagaimana kitab suci Qur'an menunjukkan secara jelas mengenai kebebasan manusia.           * Ayat-ayat yang telah anda kutip dari Kitab Suci Qur'an benar-benar menunjukkan bahwa manusia diberi sejumlah kebebasan yang cukup yang membuat dia bertanggung jawab, dan patut menerima hadiah (ganjaran) atau hukuman tentang apa yang diperbuat. Akan tetapi, ada beberapa ayat-ayat yang dikutip dari Qur'an yang menganjurkan takdir. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tindakan manusia dikontrol oleh Tuhan.           * Tuhan adalah pencipta dari seluruh alam semesta, dan seluruh kejadian-kejadian. Tidak ada kejadian di dunia ini berada di luar ciptaanNya. Kemauan manusia adalah satu dari kejadian (peristiwa-peristiwa) yang mengambil bagian di dunia ini. Karena itu manusia tidak berkeinginan bebas. (free will).           * Segala sesuatunya diketahuiNya, seluruh tindakan kita telah ditentukan jauh sebelum kita berbuat. Bagaimana Islam menjelaskan ini?    11. Sejarah Kenabian           * Sejarah Agama yang mempercayai keesaan Tuhan menunjukkan bahwa semua Nabi-nabi mereka berasal dari golongan Semit dan bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari turunan Nabi Ibrahim, kedua-duanya dari anak-anak Ishak atau dari anak-anak Ismail. Ini dapat dijelaskan sebagai suatu keistimewaan yang mana Israelites dan Ishmaelites diistimewakan dari manusia-manusia yang lain. Tetapi hal ini sangat sukar untuk diterima bahwa Tuhan akan menjadikan hanya dua kelompok masyarakat ini yang mendapat pesan. Tuhan adalah Tuhan untuk seluruh bangsa dan pesan-pesanNya akan disampaikan pada bangsa yang lain. Bila sejarah Agama teliti, harus ada beberapa alasan untuk memisahkan kenabian pada dua kelompok masyarakat ini.           * Sesuai dengan keterangan anda, tujuan yang sangat baik tidak memisahkan kepercayaan pada satu atau dua masyarakat- masyarakat atau bangsa-bangsa tetapi untuk mengembangkan kepercayaan yang benar ke seluruh dunia dan memperkenalkan prinsip-prinsipnya kepada seluruh bangsa-bangsa. Ini nampaknya tidak demikian. Taurat (Old Testament) berulang-ulang mengatakan Tuhannya Israelites memilih bangsa. Ini menunjukkan bahwa Israelites yang diutamakan dari berita-berita yang sangat baik itu.           * Bible memberitakan pada kita bahwa Tuhan meminta (menganjurkan) Ibrahim agar mendengarkan Sarah, isterinya, dan membuang Ismail di padang pasir Paran, dimana tidak ada makanan juga tidak ada air. Ini tidak hanya nampak tidak adanya belas-kasih, tetapi juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak mempunyai maksud (tujuan) pada Ismail dan anak-anaknya.    12. Mengapa Kita Perlu Nabi-nabi?           * Mengapa manusia memerlukan atau perlu mempunyai seorang atau pesuruh Tuhan?           * Tugas Nabi dan Pesuruh.           * Bagaimana kita dapat membedakan antara Nabi-nabi yang benar dan yang tidak benar?           * Haruskah seorang Nabi itu manusia atau mungkinkah Tuhan mengirim pesuruh yang bukan manusia?           * Apakah kepercayaan terhadap Kenabian termasuk pandangan yang penting dalam Islam.    13. Nabi Muhammad           * Sejarah Nabi memberitahu kita bahwa pada umur empat puluh tahun, waktu dia sedang meditasi di Gua Hira, cahaya Tuhan menyinarkan padanya dan dia mendengar suara kebenaran. Pada saat itu datang perintah sebagai pesuruh Tuhan untuk manusia. Apa yang dikemukakan pada Muhammad di Gua Hira?           * Bagaimana kedudukan Muhammad di antara Nabi-nabi?           * Ini sedikit membingungkan. Nabi-nabi sebelum Muhammad, seperti Musa dan Isa diberi keajaiban dan kesaktian, sedangkan Muhammad tidak menunjukkan atau tidak menyandarkan pada kejadian-kejadian yang ajaib. Dia membuktikan kenabian dengan Qur'an. Mengapa dia tidak menunjukkan keajaiban yang sama seperti Yesus (Isa) dan Musa?    14. Keistimewaan Kenabiannya: Ramalan-Ramalan Tentang Masa Depan Al-Qur'an.   15. Bukti Lebih Lanjut: Ramalan Masa Depan Islam   16. Pemberitahuan Tentang Masa Depan Nabi dan Kenabian           * Hingga kini kita telah membicarakan dua jenis pernyataan Qur'an tentang masa depan yang tidak di-sangka-sangka: satu type mengenai nasib Qur'an itu sendiri, dan yang lain mengenai masa depan Islam. Apakah Qur'an mengemukakan ramalan-ramalan tentang masa depan Nabi?           * Apakah Qur'an mengemukakan beberapa penjelasan tentang masa depan kenabian umumnya?    17. Kenyataan Lebih Lanjut Membukakan Peristiwa-Peristiwa Yang Tidak Diketahui:           * Apakah Kitab Suci Qur'an berisikan penjelasan mengenai beberapa peristiwa-peristiwa yang diketahui oleh ilmu pengetahuan kita sekarang, yang tidak diketahui pada masa Muhammad?    18. Bible Adalah Saksi Untuk Muhammad           * Saya kepingin tahu apakah perjanjian baru dan perjanjian lama berisikan ramalan tentang kehadiran Nabi Muhammad.    19. Alam Baka           * Perjanjian Lama tidak jelas dalam hal Alam Baka. Yahudi tidak menekankan hidup setelah mati. Perjanjian Baru telah berhubungan dengan masalah itu, dan membicarakan dengan jelas dari Alam Baka. Oleh karena itu, Kristen, pada umumnya, mempercayai Alam Baka. Saya mengetahui bahwa Kitab Suci Al Qur'an mengakui Alam Baka ini, tetapi saya ingin mengetahui bahwa hal ini dianggap salah satu dari pokok kepercayaan Islam.           * Konsep (pengertian) tentang Alam Baka adalah sangat jauh dari lingkungan pengalaman manusia. Tidaklah mudah untuk memikirkan bahwa seseorang yang meninggal secara fisik akan melanjutkan hidup secara rohani atau bahwa dia akan hidup kemudian, jauh setelah dia meninggal. Ilmu pengetahuan, tidak dapat membuktikan kemungkinan hidup setelah mati, tidak dapat memberikan bantuan terhadap konsep yang demikian.           * Ada perbedaan besar antara apa yang harus terjadi dan apa yang akan terjadi. Tujuan kita tidak hanya menunjukkan kebutuhan untuk dunia masa depan, tetapi untuk membuktikan, bahwa dunia itu akan menjadi kenyataan.           * Pentingkah bab kepercayaan alam baka di dalam Islam dari Pandangan Qur'an?           * Muhammad telah memberitahukan kepada manusia tentang Alam Baka. Penjelasannya jelas dan positif. Yesus, sebelum dia, menganjurkan beberapa penjelasan tentang masalah ini. Musa nampaknya diam dalam hal ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Tidak adanya penjelasan dalam masalah ini di dalam buku Musa adalah membingungkan.Bila azas (doktrin) pembangkitan adalah sangat penting, hal itu akan diberikan juga pada Musa, sama seperti Muhammad dan Yesus.           * Anda telah menerangkan bahwa Islam mengajarkan bahwa setiap manusia, pada suatu hari yang telah ditentukan dan hanya diketahui oleh Tuhan akan dibangkitkan kembali. Hari itu adalah hari pengadilan. Sekarang, bolehkah saya bertanya tentang masa yang panjang yang memisahkan hidup (kehidupan) kita ini dari Alam Baka? Apakah manusia melanjutkan hidup, dalam beberapa bentuk, setelah dia meninggal sampai Hari Pengadilan? Adakah pernyataan yang jelas didalam Al-Qur'an tentang kehidupan kita atau kematian, kemudian terhadap kematian kita dan sebelum pembangkitan?           * Orang-orang yang menyetujui azab Alam Baka berbeda dalam beberapa hal penting: beberapa di antara mereka percaya bahwa hidup di Alam Baka hanya spirituilnya dan yang lain percaya bahwa hidup manusia pada Hari Pembangkitan akan hidup baik fisiknya maupun ruhnya. Bagaimana pendapat Islam mengenai masalah ini?           * Konsep pembangkitan yang berhubungan dengan fisik mempunyai kesulitan-kesulitan: Andaikata seorang kanibal (orang yang makan orang) memakan badan seorang. Badan yang dimakan akan dijadikan satu dengan badan yang memakan. Bila badan atau jasmani dibangkitkan pada hari pengadilan, hal itu tidak akan mungkin untuk mengupas atau memutuskan apakah badan itu milik yang makan atau yang dimakan Andaikata badan seorang dimakan oleh seekor burung atau binatang. Badan yang memakan akau menjadi satu dengan badan yang dimakan. Apa yang akan dibangkitkan pada Hari Pengadilan? Apakah burung dan binatang atau badan manusia?           * Beberapa Agama mengajarkan bahwa nyawa manusia adalah tunggal dan tidak dapat dibagi, dan beberapa ahli-ahli filsafah menyetujui pendapat-pendapat ini. Apakah Islam mengajarkan hal yang sama atau Islam mempunyai ajaran yang berbeda mengenai hal ini?           * Beberapa Agama mengajarkan bahwa ruh manusia setelah mati akan menempati seorang anak yang haru dilahirkan atau akan menempati badan dari beberapa binatang. Apakah Islam menyetujui setiap konsep dari penjelmaan kembali (reincarnation) atau perpindahan?
Ajaran Sufi Para Wali PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 3
TerjelekTerbaik 
Ditulis oleh Siska Widyawati   
Selasa, 01 April 2008 00:00
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

KHAZANAH kearifan sufistik khas Indonesia sebenarnya bertebaran dalam banyak manuskrip kuno. Namun, jarang dikaji serta dipopulerkan kembali. Salah satunya terdapat dalam naskah kuno Mertasinga yang merupakan pesan Syekh Athaullah, guru dari Sunan Gunung Djati, satu dari sembilan Wali Sanga.
“Mengenai langkah yang harus dijalani, janganlah kamu berlebihan, hiduplah dengan bersahaja, jangan sombong dalam berbicara, dan jangan berlebihan terhadap sesama manusia. Itulah langkah sempurna yang sejati. Bertapa di gunung atau di gua itu akan menjadikanmu takabur, lakukanlah tapa di tengah ramainya manusia. Milikilah sikap luhur dan maafkanlah orang yang salah. Hanya itulah langkah yang sejati”
(Sajarah Wali, Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunang Djati, Naskah Mertasinga, Wahjoe: Pustaka, 2005)
Naskah ini diterjemahkan oleh Amman N Wahjoe yang memiliki dokumen ini secara turun-menurun dalam keluarganya. Wahjoe membuat babad berbahasa Jawa-Sunda ini kini dikenal dalam bahasa Indonesia dan menjadi satu bacaan yang banyak mengungkap sejarah tentang para wali di Pulau Jawa.
Sebenarnya ajaran-ajaran macam ini bertebaran di Indonesia. Bentuknya dapat berupa babad, kawuh, tembang kinanti, dan sebagainya. Namun, itu umumnya tersimpan dalam bentuk dokumen-dokumen pribadi turun-temurun, dan karenanya bersifat eksklusif serta tidak terdokumentasi dengan baik.
Banyak keluarga di Indonesia menyim­pan catatan-catatan seperti ini yang mereka warisi dari kakek, nenek atau buyutnya. Namun karena ketidakmengertian catatan ini diperlakukan sebagai jimat yang dikeramatkan tanpa dikuak isinya.
Bagi saya pribadi amat menarik untuk mengetahui secara mendalam ajaran-ajaran para wali itu. Sejak dulu informasi yang saya terima tentang para wali, hanyalah hal-hal yang bersifat sinkretik yang penuh dengan cerita-cerita kegaiban.
Namun semakin saya mencari, yang saya temukan adalah kesederhanaan ajaran mereka yang cukup menyentuh sisi keberagamaan saya. Kalau ditilik dari ajaran-ajarannya, para sunan ini tidak hanya sekedar pendakwah, namun mereka mempunyai khazanah sufistik yang cukup mendalam.
Salah satu tanda dari khazanah sufistik yang dimiliki para wali tersebut adalah wisdom (kebijaksanaan). Salah satu contohnya dapat kita rasakan pada ajaran Sunan Kudus yang sampai saat ini masih diyakini oleh sebagian masyara­kat di Kota Kudus, Jawa Tengah. Yakni tentang larangan menyembelih sapi. Saat itu Sunan Kudus memerintahkan penghormatan terhadap sapi untuk mentoleransi kepercayaan masyarakat Hindu yang hidup di kota itu.
Menurut kisah yang tersebar dalam masyarakat, Sunan ini memulai dakwahnya dengan cara yang sangat unik untuk memancing masyarakat pergi ke masjid mendengarkan dakwahnya. Ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagung­kan sapi, tumbuh simpatinya. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat al-Baqarah yang berarti "sapi betina".
Selain itu, kita dapat juga mempelajari ajaran dari Sunan Bonang yang gemar menciptakan lagu-lagu rakyat sebagai lahan dakwahnya. “Tombo Ati”, salah satu tembangnya yang cukup popu­ler sampai saat ini, terutama saat dinyanyikan kembali oleh Opick dan Emha Ainun Nadjib.
Obat hati ada lima perkara
yang pertama baca Quran dan makna­nya
yang kedua shalat malam dirikanlah­
yang ketiga berkumpulah dengan orang saleh
yang keempat perbanyaklah berpuasa
yang kelima dzikir malam perpanjang­lah
siapa yang bisa melakukan salah satuny­a
semoga Tuhan memberikan penyembuh­nya

Salah satu sunan lain yang cukup unik pendekatan dakwahnya dan cukup akrab dengan budaya lokal adalah Sunan Kalijaga. Wali yang satu ini menggu­nakan pendekatan budaya untuk membujuk masyarakat Hindu dan Buddha pada zamannya. Salah satu pening­galan beliau yang cukup dikenal oleh masyarakat Jawa adalah kisah pewayangan Dewa Ruci. Kisah tentang Bima yang bertemu dengan Dewa Ruci yang berwujud sama dengan dirinya menyimbolkan pertemuan manusia dengan jiwanya sendiri.
Kisah Dewa Ruci merupakan satu simbol khazanah kesufian yang melihat bahwa tiap-tiap manusia harus bertemu dengan jiwanya sendiri untuk mengetahui laku sejati dalam hidupnya. Sayangnya saat ini banyak orang Jawa menggunakan pementasan wayang Dewa Ruci ini untuk ritual “ruwatan” tanpa mengetahui pesan sesungguhnya dari kisah tersebut.
Yang cukup ajaib buat saya juga adalah fakta sejarah bahwa para wali itu sebagian besar adalah orang-orang asing. Menurut buku yang ditulis oleh Sudirman Tebba, “Mengenal Wajah Islam yang Ramah” (Pustaka Irvan, 2007) dan juga “Sejarah Wali dalam Naskah Mertasinga”, para wali kebanyak­an berasal dari tanah Arab dan Campa, Indochina sekarang (Vietnam dan Kamboja).
Syekh Syarif Hidayatullah sendiri serta Sunan Kudus berdarah Arab. Wali-wali yang lain seperti Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Bonang mem­punya­i hubungan kekeluargaan satu sama lain, dan merupakan keturunan dari Campa.
Kenyataan bahwa orang-orang asing khusus datang dan berkumpul ke Pulau Jawa untuk menyebarkan dakwah Islam, adalah hal yang cukup menarik untuk diselami. Mengapa mereka datang ke sini? Dan lebih hebatnya lagi mengapa mereka yang berdarah asing itu dapat membumikan nilai-nilai Islam sesuai dengan nilai lokal, atau lebih tepatnya “berdakwah” dengan “bahasa” kaumnya?
Ini adalah misteri yang membutuh­kan studi yang panjang, namun dengan khazanah sufistiknya yang unik para wali mengajarkan nenek moyang saya untuk menyembah Tuhan dengan keberserah­dirian yang sederhana.
Sayangnya esensi dari ajaran para wali ini terlupakan saat ini. Banyak orang di Indonesia mencoba mencari refleksi keagamaannya ke luar dan bukan pada dirinya sendiri. Gerakan pan-Islamisme yang populer pada 1980-an agaknya banyak membuat perubahan dalam berislamnya orang Indonesia.
Paham-paham yang serba keras, murni berwajah syariah tanpa percikan kebijakan membuat Islam dipahami denga­n perspektif yang amat berbeda pada generasi–generasi muda Islam Indonesia yang ada saat ini.
Gerakan–gerakan Islam yang banyak merupakan turunan dari organisasi Islam dari Mesir atau Saudi Arabia, membuat banyak orang terasing dari sejarah keberagamaannya sendiri. Aliran garis keras ini pun direaksi dengan gerak­an keislaman yang liberal yang mencoba memasukkan Islam mempu­nyai logika berpikirnya sendiri yang transenden, dalam frame ilmiah Barat yang sifatnya materialistik.
Saya tidak menemukan wajah Islam yang diyakini oleh nurani saya pada dua sisi ekstrim tersebut. Namun saya menemukan ketersambungan akar keyakinan saya tentang bagaimana seharusnya “beragama Islam” dalam ajaran para wali.
Sekarang, pada saat Islam diidentik­an dengan terorisme dan kekerasan, Indonesia sering ditoleh oleh Barat sebaga­i antitesa bahwa Islam adalah wujud dari kedamaian dan toleransi. Menurut saya sudah saatnya menggali dan mencoba menemukan lagi inti dari warisan ajaran-ajaran para wali, sehingga kita bisa menemukan keunikan sejarah keberagamaan kita sendiri dan menyebarkan pada dunia, wajah Islam yang sebenarnya sebagai rahmat sekalian alam.*

Dahulukan Akhlak…

Dahulukan Akhlak…


SEBENARNYA ini bukan buku baru. Saya membelinya tahun 2003. Oleh Penerbit Mizan buku ini dicetak ulang belum lama ini. Buku karya Jalaluddin Rakhmat ini menjadi salah satu buku yang saya sukai, sebuah karya yang mencerahkan. Topik buku ini masih sangat relevan untuk terus kita sampaikan.
Setelah membaca buku ini saya sadar betapa selama ini banyak umat Islam menggunakan paradigma yang tidak benar dalam memahami agama. Jalaluddin Rakhmat mengungkapkan keprihatiannya tentang kentalnya paradigma fikih dalam perilaku keagamaan kita. Dalam banyak kasus, umat Islam menempatkan fikih pada posisi di depan. Saking kuatnya warna fikih, umat Islam sering melupakan akhlak (moral).
Hanya karena perbedaan paham keagamaan, misalnya, umat Islam rela memutus hubungan baik, memutus hubungan silaturrahmi. Menyebarkan prasangka buruk, dusta, dan bahkan fitnah yang sangat keji. Merebaknya kecenderungan untuk menganggap pendapatnya sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat orang lain. Ini menjadi salah satu gambaran wajah umat Islam pascameninggalnya Nabi Muhammad. Terkotak-kotak dalam paham keagamaan yang sempit.
Perbedaan pendapat, perbedaan tafsir masuk dalam ranah fikih, sementara memutus hubungan baik, menebar dusta, fitnah, termasuk kekerasan masuk ranah moral. Sering kita jumpai umat Islam membela mati-matian pendapatnya sendiri dengan melanggar moralitas agama (akhlaqul karimah).
Menurut Jalaluddin Rakhmat, dalam kondisi apapun, akhlak mestinya menjadi pertimbangan utama. Tinggalkan fikih demi menghindari pertengkaran. Prinsip ini yang dicontohkan oleh guru besar dan pendiri Al-Ikhwan Al-Muslimun, Imam Hasan Al-Banna. Pada permulalan malam Ramadan, ia datang di sebuah mesjid di Mesir. Ia menemukan jamaah mesjid itu terpecah menjadi dua kubu. Satu kubu menghendaki salat tarawih 11 rekaat. Kubu yang lain menghendaki 23 rekaat. Dua kubu ini saling caci dan hampir saja terjadi perkelahian. Melihat kondisi kacau balau, Hasan Al- Banna bertanya kepada para jamaah, “Apakah hukumnya salat tarawih?.” Kedua jamaah kompak menjawab, “sunnah”. “Apa hukumnya bertengkar di rumah Tuhan dengan suara keras?,” Jamaah menjawab, “haram”!!. Hasan Al-Banna lantas bertanya lagi, ”Mengapa kalian lakukan yang haram untuk mempertahankan yang sunnah?”. Dengan kata lain, Imam Hasan Al-Banna menegur kaum muslimin, “Mengapa kalian mempertahankan fikih dengan meninggalkan akhlak?”.
Buku ingin mengajak kita untuk menggunakan akhlak sebagai parameter tertinggi dalam menilai kualitas kegamaan seseorang. Bukankah Nabi Saw dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak?. Alquran juga diturunkan untuk menyucikan jiwa?. Seorang laki-laki pernah menemui Rasulullah Saw dan bertanya : “Ya Rasulullah, apakah Agama itu?”. Rasulullah Saw bersabda : “Akhlak yang baik…..”.
Semua bentuk peribadatan yang diperintahkan Allah dimaksudkan untuk membangun akhlak orang yang melakukannya. Di sinilah letak substansi agama. Dengan paradigma akhlak, maka orang yang baik agamanya adalah orang yang mulia akhlaknya, tidak sekadar orang yang rajin salat, rajin puasa, rajin baca Alquran, atau pernah naik haji. Rajin beribadah tanpa dibarengi meningkatnya kualitas moral, sama artinya ibadah yang kita lakukan sia-sia belaka. Jika ini terjadi, pasti ada hal-hal yang tidak beres dalam diri kita.

Senin, 11 Juli 2011

Islam Modern dalam Karya Boulares

Islam Modern dalam Karya Boulares

12 07 2011
Oleh AHMAD SAHIDIN
Baru setengahnya saya baca buku Islam: Biang Ketakutan atau Tumpuan Harapan? karya Habib Boulares. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan Pustaka Hidayah, 2003. Buku lama memang, tapi isinya sangat informatif.
Sebagai seorang mantan menteri kebudayaan Tunisia, Boulares memiliki pengalaman dan bacaan buku-buku yang lebih banyak. Begitu juga dengan interaksinya dengan media massa sehingga pada bukunya ini penuh dengan informasi dan sedikit analisa kritis terhadap fenomena yang terjadi di sekitar Tunisia, juga Dunia Islam.
Boulares masih melihat di Dunia Islam ini, wajah Islam itu ada dua: Syiah dan Sunni. Baginya, dua wajah ini yang kemudian hari muncul kembali dalam jagad politik Islam kontemporer. Arab Saudi, Irak, Kuwait, Turki, Iran, dan Lebanon masih terus bergumul dengan kasus dan sejumlah konflik yang berkaitan dengan mazhab klasik. Sebagai warisan sejarah yang tentunya tidak hilang hingga sekarang ini karena memang tampaknya dilestarikan atau dipertahakan dengan klaim kebenaran berdasarkan historis dan teks suci. Itu wajah Islam Modern yang masih berada dalam bayang-bayang sejarah Islam.
Pada buku ini juga, Boulares menampakkan wajah Islam kontemporer yang bernuasan pergerakan politik dan pembaruan agama dalam dua wajah: moderat dan radikal. Kelompok pemikir-pemikir Islam yang mempromosikan Islam secara damai dan menerima khazanah Barat dianggap kelompok pertama. Sedangkan gerakan yang mencoba mengubah tatanan yang sudah teratur yang tidak sesuai dengan Islam coba dipkasakan diganti dengan aturan Islam, termasuk yang kedua. Ikhwanul Muslimin, Hijrah wal Takfir, Gerakan Juhaiman, dan lainnya adalah bagian dari gerakan radikal. Karena itu, buku ini bagi saya sekadar berisi informasi, khususnya berkaitan dengan gerakan Islam modern dan pembaruan Islam di Arab Saudi, Iran, Lebanon, Tunisia, Turki, dan lainnya. Selain dari itu, tak ada yang baru. Memang ada komentar-komentar, tapi tidak mendalam dan jika dibandingkan dengan perkembangan Islam sekarang di dunia ini sudah semakin tak jauh dari fakta.
Meskipun begitu… bagi mereka yang ingin mengetahui konteks Islam modern, tampaknya perlu membacanya. Ya… kalau ingin melihat yang berbeda secara historis dari masa klasik, pertengahan, dan modern. Bagi yang tidak tertarik, enyahkanlah buku ini setelah Anda membacanya. :-)

http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=86TCOjkhmGI#t=21s

Film “?”: Apa Maunya?

“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”
(Prof. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar)
PERLU digaris bawahi, saat menonton film “?” (Tanda Tanya) pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film “?”. Sebagai Muslim, saya telah berikrar: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari Al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas berasal dari wahyu.
Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu meng-ahad-kan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28), bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu.
Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia. Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw. Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun, sesuai dengan kreatifitas akal dan hasrat nafsu manusia.
Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (cultural religion).
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!
***
Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya tetap Muslim. Bahkan, ia mengantar jemput anaknya ke masjid, belajar mengaji Al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur.
Di Film “?” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya.
Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film “?” garapan Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. Saat duduk di bangku SMP, saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan Kitab Safinatun Najah.
Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.
Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.
”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS 2:217).
“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS 24:39).
Jadi, riddah/kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah di mata kaum Pluralis! Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan dibangga-banggakan! Dalam perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan kekafirannya?
***
Masih menyorot sosok Rika dalam film “?”. Rika pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika bisa dikatakan telah melakukan dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam Trinitas. Padahal, dalam al-Quran Nabi Isa a.s. jelas-jelas menegaskan dirinya sebagai Rasul Allah. Nabi Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau anak Tuhan. Ini pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen.
Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat makhluk adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan derajat makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik namanya. Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa. Jika lewat, dia minta diistimewakan. Kita diminta minggir. Binatang juga dibeda-bedakan tempat atau kandangnya. Adab — dalam konsepsi Islam — mewajibkan seorang Muslim meletakkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa a.s. adalah utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel, siapa Tuhan yang sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa a.s. melanjutkan syariat Nabi Musa a.s.
Menuduh Allah mempunyai anak – menurut al-Quran – adalah sebuah kesalahan yang sangat serius. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS 19: 88-91).
Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa, bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas kapan saja si empunya suka. Iman juga tidak patut diperjualbelikan: ditukar dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara mukmin dan kafir. “Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.” (QS 98:6).
Demi mempertahankan iman, Nabi Ibrahim a.s. rela berpisah dengan ayah dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala pada keluarga dan kaumnya, Ibrahim a.s. tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, dan punya tujuan yang sama. Tapi, Nabi Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid, mengajak kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik.
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” (QS 6:74).
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikan negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 14:35-36)
“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).
Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk Nabi Muhammad saw dan sekaligus dirangkaikan dengan doa untuk Nabi Ibrahim a.s. Itu tentu karena kegigihan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran Tauhid dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik!
Maka, sebagai Muslim, saya tentu boleh merasa heran, dan penuh Tanda Tanya, mengapa dalam film “?” — yang diproduksi dan digarap seorang yang beragama Islam — soal ganti agama, soal keluar dari Islam, soal pergantian mukmin menjadi kafir, dianggap perkara kecil dan remeh?
***
Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Jean Paul Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern ini. Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menyatakan: “even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.” (Karem Armstrong, History of God, 1993). Thomas J. Altizer, dalam “The Gospel of Christian Atheism” (1966) menyatakan: “Only by accepting and even willing the death of God in our experience can we be liberated from slavery…” (Karen Armstrong, History of God)
Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, Also Sprach Zarathustra, mengungkap gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang lebih berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.” Nietzsche ingin bebas dari segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada 25 Agustus 1900, ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit kelamin. (Lihat, B.E. Matindas, Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern, 2010).
Jika direnungkan secara serius, Pluralisme Agama sejatinya bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide dalam dirinya, bahwa “semua agama salah”. Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan yang abstrak. Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh diberi nama siapa saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun boleh suka-suka. Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti dengan Tuhan lain. Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera manusia. Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai petunjuk seorang Nabi.
Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan dalam agama Kristen menghalalkan babi.
Tuhan, dalam agama Bhairawa Tantra, memerintahkan agar menyembelih wanita dan darahnya kemudian diminum bersama-sama. Tuhan dalam agama Children of God menganjurkan seks bebas, sebagai wujud rasa kasih sayang antar-sesama manusia. Kini, di daratan Amerika dan Eropa bermunculan gereja-gereja nudis. Baik pendeta maupun jemaatnya, semuanya telanjang bulat saat melakukan kebaktian. Jika semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang disembah kaum Pluralis?
Jadi, saat seorang yang mengaku Pluralis berkata, “Semua agama menyembah Tuhan yang sama”, maka secara hakiki, dia telah berdiri di luar Islam. Sebab, dia tidak lagi menuhankan Allah. “Tuhan”, baginya, bisa siapa saja, berupa apa saja, dan berwujud apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa juga Iblis! Yang penting dikatakan “Tuhan”, yang penting God! Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan “Allah”, tetapi kaum Quraisy ketika itu dikatakan sebagai “musyrik”, sebab mereka menyekutukan Allah dengan Tuhan-tuhan lain. Allah hanyalah salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan Tuhan satu-satunya. Sebutan bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya berbeda-beda. Sebagian besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan mereka dengan sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam Islam.
Lain lagi dengan aliran “Darmogandul” di Tanah Jawa, yang mengartikan Allah dengan “ala” (bahasa Jawa, artinya jelek). Dalam salah satu bait Pangkur-nya, Kitab Darmogandul, menyatakan: “Akan tetapi bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu terasa pahit dan masin.”
Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum Pluralis? Jika Tuhan apa pun sama saja, lalu apa artinya Tuhan bagi mereka? Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan tidak penting! Sebab, dalam pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah), atau manusia, atau setan dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan dituhankan. Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan sosok Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa infantilisme (penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).
Ketidakjelasan posisi teologis kaum Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr. Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang, dalam bukunya, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).
Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa Teologi Abu-Abu adalah posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama.
Ditegaskan dalam buku ini: ‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an) kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’
***
Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam Film “?” adalah seorang bernama Surya. Ia seorang laki-laki Muslim, berprofesi sebagai aktor figuran. Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang “bakhil” itu ditampilkan dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika agar membaca buku-buku Islam!
Surya memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Mereka berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan naif. Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat beragama”, Surya menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela beradegan – seolah-olah — dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik saat perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus. Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan Surya sebagai tokoh Yesus.
Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya ditampilkan sebagai representasi fenomena toleransi dan “kerukunan”. Setelah merelakan dirinya berperan sebagai Yesus, Surya kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. “Katakan, Allah itu satu. Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak! Ini gambaran dalam Film “?” karya Hanung ini.
Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), sebagaimana disebutkan dalam Nicene Creed:
“Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa…” (Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja).
Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang menesehati anaknya: “Syirik adalah kezaliman besar.” (QS 31:13).
Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam membuktikan sebagai agama yang sangat toleran. Sejak awal, Islam mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa harus kehilangan keyakinan.
Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, di wilayah Timur Tengah, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum musyrik Arab. Nabi Muhammad s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam, mengakui Allah satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah. Nabi tidak menyatakan, “Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan!” Bahkan, ada perintah al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): “Katakan, hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah! Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah!”
Dalam Tafsirnya, Al-Azhar, Prof. Hamka menjelaskan, asbabun nuzul surat al-Kafirun ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka mengajukan usulan: “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah….”
Buya Hamka mencatat: “Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.”
Lebih jauh Buya Hamka menjelaskan: “Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang haq hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang.”
Itulah paparan Buya Hamka, ulama terkenal dan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia. Kita bisa menyimpulkan, jika ada yang menyatakan, bahwa “semua agama adalah jalan kebenaran”, saat itu dikepalanya telah hilang konsep iman dan kufur, konsep tauhid dan syirik. Baginya, tiada penting lagi, apakah seorang bertauhid atau musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam, minum khamr atau jus kurma; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang; tiada beda antara nikah atau zina; yang penting – katanya – adalah mengasihi sesama manusia. Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada; sudah diganti dengan SATU AGAMA: “agama global”, “agama universal”, “agama kemanusiaan”, atau “agama cinta”.
Persaudaraan global antar-sesama tanpa memandang agama menjadi misi terpenting dari kelompok lintas-agama semacam Theosofi dan Freemason. Ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D. Van Hinloopen Labberton pada majalah Teosofi bulan Desember 1912 menulis: “Kemajuan manusia itu dengan atau tidak dengan agama? Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut agama itu sifatnya: cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tetapi perkara dalam hati, batin.
Inikah yang dituju oleh Film “?” Jangan menuduh! Silakan dicermati dan direnungkan!
***
Masih ada sosok lain yang diidolakan dalam film “?”. Namanya, Menuk. Dia seorang muslimah, berjilbab pula. Menuk bekerja di sebuah retoran China. Bermacam makanan dijual di sana, termasuk babi. Dengan mencolok kepala babi ditampilkan. Kata si empunya restoran, bahan babi dan bahan lain dipisahkan.
Menuk diterima bekerja dengan baik di restoran ini. Ia diberi kebebasan ibadah. Dalam salah satu segmen, ditayangkan Menuk sedang shalat, disampingnya Nyonya pemilik restoran juga sedang bersembahyang sesuai dengan agamanya.
Pesan dari pemunculan sosok Menuk ini cukup jelas: inilah contoh toleransi! Muslimah berjilbab rela bekerja di sebuah restoran yang menjual babi.
Syukurlah, di akhir cerita, anak pemilik restoran bersedia memeluk Islam. Ini tentu baik, dalam perspektif Islam. Tetapi, apakah perlu harus melalui proses bekerja di sebuah restoran yang menjual babi?
Tujuan baik tidak boleh menghalalkan segala cara. Tujuan memberi nafkah keluarga adalah baik. Tetapi, cara yang ditempuh pun harus baik. Banyak muslimah yang gigih membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja keras dalam berbagai bidang profesi, dan juga toleran dengan yang lain. Tapi, apakah Menuk sosok Muslimah yang ideal untuk ditampilkan?
Walhasil, Film “?” karya Hanung Bramantyo ini membawa pesan besar yang terlalu jelas: agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. Juga, agama-agama dianggap barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar dan — kalau perlu — dibuang kapan saja! Katanya, demi kerukunan, demi toleransi, dan demi perdamaian.
Akhirul kalam, di era globalisasi dan kebebasan informasi, saat kemusyrikan dan kemurtadan ditampilkan dalam wujud yang menawan dan menghibur, ada baiknya kita merenungkan satu ayat al-Quran: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan setan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS 6:112)
Juga, Nabi Muhammad saw pernah bersabda: “Bersegeralah mengerjakan amal shalih, (sebab) akan datang banyak fitnah laksana malam yang gelap gulita. Pada pagi hari, seseorang berada dalam keadaan mukmin, tetapi sore harinya menjadi kafir. (Atau) sore harinya dia mukmin, pagi harinya menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” (HR Muslim).
Wallahu a’lam bil-shawab.

Artikel terkait:
  1. KH. A Cholil Ridwan : Aroma Pluralisme Agama Film ‘?’ Sangat Menyengat
  2. Heboh Nabi Palsu Asal Bandar Lampung
  3. Film Yesus Versi Al-Quran Di Tolak Kristen
  4. Tahu Kenapa Film Ini Di Anggap Sesat ?!
  5. KataAllah Tak Berhak Dipakai Non-islam

WebMaster_Radio

Daftar Blog Saya