Selasa, 12 Juli 2011

Dahulukan Akhlak…

Dahulukan Akhlak…


SEBENARNYA ini bukan buku baru. Saya membelinya tahun 2003. Oleh Penerbit Mizan buku ini dicetak ulang belum lama ini. Buku karya Jalaluddin Rakhmat ini menjadi salah satu buku yang saya sukai, sebuah karya yang mencerahkan. Topik buku ini masih sangat relevan untuk terus kita sampaikan.
Setelah membaca buku ini saya sadar betapa selama ini banyak umat Islam menggunakan paradigma yang tidak benar dalam memahami agama. Jalaluddin Rakhmat mengungkapkan keprihatiannya tentang kentalnya paradigma fikih dalam perilaku keagamaan kita. Dalam banyak kasus, umat Islam menempatkan fikih pada posisi di depan. Saking kuatnya warna fikih, umat Islam sering melupakan akhlak (moral).
Hanya karena perbedaan paham keagamaan, misalnya, umat Islam rela memutus hubungan baik, memutus hubungan silaturrahmi. Menyebarkan prasangka buruk, dusta, dan bahkan fitnah yang sangat keji. Merebaknya kecenderungan untuk menganggap pendapatnya sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat orang lain. Ini menjadi salah satu gambaran wajah umat Islam pascameninggalnya Nabi Muhammad. Terkotak-kotak dalam paham keagamaan yang sempit.
Perbedaan pendapat, perbedaan tafsir masuk dalam ranah fikih, sementara memutus hubungan baik, menebar dusta, fitnah, termasuk kekerasan masuk ranah moral. Sering kita jumpai umat Islam membela mati-matian pendapatnya sendiri dengan melanggar moralitas agama (akhlaqul karimah).
Menurut Jalaluddin Rakhmat, dalam kondisi apapun, akhlak mestinya menjadi pertimbangan utama. Tinggalkan fikih demi menghindari pertengkaran. Prinsip ini yang dicontohkan oleh guru besar dan pendiri Al-Ikhwan Al-Muslimun, Imam Hasan Al-Banna. Pada permulalan malam Ramadan, ia datang di sebuah mesjid di Mesir. Ia menemukan jamaah mesjid itu terpecah menjadi dua kubu. Satu kubu menghendaki salat tarawih 11 rekaat. Kubu yang lain menghendaki 23 rekaat. Dua kubu ini saling caci dan hampir saja terjadi perkelahian. Melihat kondisi kacau balau, Hasan Al- Banna bertanya kepada para jamaah, “Apakah hukumnya salat tarawih?.” Kedua jamaah kompak menjawab, “sunnah”. “Apa hukumnya bertengkar di rumah Tuhan dengan suara keras?,” Jamaah menjawab, “haram”!!. Hasan Al-Banna lantas bertanya lagi, ”Mengapa kalian lakukan yang haram untuk mempertahankan yang sunnah?”. Dengan kata lain, Imam Hasan Al-Banna menegur kaum muslimin, “Mengapa kalian mempertahankan fikih dengan meninggalkan akhlak?”.
Buku ingin mengajak kita untuk menggunakan akhlak sebagai parameter tertinggi dalam menilai kualitas kegamaan seseorang. Bukankah Nabi Saw dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak?. Alquran juga diturunkan untuk menyucikan jiwa?. Seorang laki-laki pernah menemui Rasulullah Saw dan bertanya : “Ya Rasulullah, apakah Agama itu?”. Rasulullah Saw bersabda : “Akhlak yang baik…..”.
Semua bentuk peribadatan yang diperintahkan Allah dimaksudkan untuk membangun akhlak orang yang melakukannya. Di sinilah letak substansi agama. Dengan paradigma akhlak, maka orang yang baik agamanya adalah orang yang mulia akhlaknya, tidak sekadar orang yang rajin salat, rajin puasa, rajin baca Alquran, atau pernah naik haji. Rajin beribadah tanpa dibarengi meningkatnya kualitas moral, sama artinya ibadah yang kita lakukan sia-sia belaka. Jika ini terjadi, pasti ada hal-hal yang tidak beres dalam diri kita.

0 komentar:

WebMaster_Radio

Daftar Blog Saya